Masa SMK, Masa Paling Bahagia

Lama memang sudah tamat SMK, ya mungkin lebih kurang 6 tahun saya sudah lulus dari masa-masa labilnya anak remaja seperti kebanyakan. Tapi tak ada salahnya hanya untuk sekedar mengenang masa-masa dimana perjuangan memang benar-benar syarat untuk memperoleh keberhasilan. Seperti waktu luang, bermain dengan teman, uang dan lain-lain. Semua sudah tak terisisa hanya untuk satu tujuan. Merubah nasib menjadi target yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Seperti sudah menjadi kebiasaan, sehabis Shalat Subuh langsung mandi dan berbenah mempersiapkan semua kelengkapan sekolah. Seperti pakaian, sepatu dan seperangkat buku yang akan digunakan pada hari itu. Tak lupa sebelum berangkat sekolah makan pagi menjadi keharusan bagi saya. Selain itu, mendiang ibu juga biasanya membawakan makan siang (bontot) yang dibungkus menggunakan daun pisang belakang rumah dan lauknya menggunakan plastik putih seperempatan yang diikat dengan karet gelang. Setelah makan, shalat dhuha 2 rakaat menjadi kewajiban rutin yang sampai hari ini masih sering dilakukan. Berharap kepada Allah akan kemurahan rezeki ( kesehatan, keselamatan dan kemudahan dalam menuntut ilmu).

Ketika semua sudah dipastikan ada dan lengkap, saya pun mengeluarkan sepeda ontel peninggalan kakek yang saat itu menjadi kendaraan saya untuk menuju jalur angkot di kampung sebelah. Jarak yang jauh serta waktu pulang sekolah hingga larut malam, tidak memungkinkan saya untuk berjalan kaki. Selain menguras tenaga, di daerah kampung saya juga  masih minim penerangan ( takut hantu). Oleh sebab itu, tak ada rasa malu sedikitpun menggunakan sepeda ontel untuk berangkat dan pulang sekolah. Setelah sampai di kampung sebelah, saya pun menitipkan sepeda tua tersebut di rumah warga yang baik hatinya menjaga sepeda antik  hingga saya pulang kembali. Tanpa biaya dan minta bayaran sedikitpun dari saya. Setelah sepeda ditipkan, saya pun menunggu angkutan umum yang menuju kota Medan yang pada saat itu ongkosnya hanya sekitar 15000 rupiah. Duduk berhimpitan ataupun bergelantungan dipintu angkot menjadi rutinitas yang tidak akan terelakkan.

Dengan menempuh perjalanan lebih kurang 30 menit sampailah saya di jalan Letda Sudjono. Harus berjalan kaki lebih kurang 10 menit lagi barulah saya sampai ke sekolah. Kegiatan yang paling saya sukai di pagi hari yaitu bersih-bersih. Memang dulu agak kesal jika disuruh bersih-bersih, saat itu saya beranggapan kegiatan bersih-bersih hanya membuang waktu dan tidak menambah skill (kemampuan) saya di sekolah. Walaupun kesal, tapi enjoy aja melakukannya. Dan ternyata sekarang baru terasa apa yang dulu saya lakukan, bersih-bersih menanamkan saya orang yang peduli terhadap lingkungan dan membangun karakter diri.

Saya sangat menikmati masa itu, dimana suatu hari saya sampai lupa pulang ke rumah karena asyiknya belajar. Bayangkan, dimana saat itu belum ada alat komunikasi seperti hari ini, saya jam 12 malam masih di sekolah bongkar pasang mesin mobil. Bapak/ibu dirumah pun kelimpungan mencari saya dimana-mana.

Kenikmatan belajar membawa saya menjadi orang yang lumayan berprestasi di tingkat sekolah, kabupaten dan Nasional dengan mengikuti perlombaan Lomba Keterampilan Siswa (LKS). Jalan-jalan untuk menggapai cita-cita yang diinginkanpun seolah-olah sudah terbuka lebar didepan mata.

Mewakili Provinsi Sumatera Utara di Tingkat Nasional 

Tak mudah untuk membuat sejarah, tapi apa boleh buat hidup hanya sekali dan harus ada kebaikan yang terwarisi. Semua butuh perjuangan, semua butuh pengorbanan, dan terkadang terselip rasa sakit hati yang dalam karena sebuah keadaan. 

Related Posts:

0 Response to "Masa SMK, Masa Paling Bahagia"

Post a Comment